Harga emas spot mengakhiri pekan Jumat (28/03) di kisaran $4.493 per troy ounce, naik 2,64% dalam sehari dan 0,48% secara mingguan. Pergerakan ini terjadi setelah emas berhasil mempertahankan zona support kritis di rentang $4.300–$4.600 sepanjang minggu yang penuh volatilitas.
Key Takeaways:
- Emas mempertahankan zona support $4.300–$4.600 setelah koreksi tajam di awal pekan, menandakan struktur bullish jangka menengah masih utuh.
- 50% analis Wall Street yang disurvei Kitco memproyeksikan harga naik pekan depan, sementara 53% investor ritel di Main Street juga bullish.
- Data ketenagakerjaan AS (payrolls) Jumat depan menjadi faktor penentu arah berikutnya, bersamaan dengan potensi pengumuman terkait konflik Iran akhir pekan.
Awal pekan dimulai dengan tekanan jual yang cukup dalam, di mana emas sempat menyentuh $4.130 per ounce pada dini hari Senin sebelum berbalik naik ke $4.460 hanya dalam beberapa jam. Menurut laporan Kitco News, pergerakan ekstrem ini mencerminkan reaksi pasar terhadap ketidakpastian konflik Iran dan posisi defensif jelang akhir pekan.
Jesse Colombo, analis logam mulia independen, menyebut penurunan ini sebagai reaksi berlebihan terhadap situasi Iran. Ia menegaskan bahwa emas masih berada dalam uptrend berdasarkan rata-rata pergerakan 200 hari yang terus menanjak.
Sentimen Wall Street kembali ke jalur bullish
Berdasarkan survei mingguan Kitco News terhadap 16 analis, sebanyak 8 analis atau 50% memproyeksikan harga emas naik dalam sepekan ke depan. Hanya 3 analis atau 19% yang memperkirakan penurunan, sementara 5 analis sisanya atau 31% melihat risiko yang seimbang di jangka pendek.
Dari sisi investor ritel, 263 suara masuk dalam polling daring Kitco dengan 139 trader atau 53% berpandangan bullish untuk pekan depan. Angka ini menandai kembalinya keyakinan investor setelah sebelumnya sempat tergerus oleh koreksi tajam.
James Stanley, Senior Market Strategist di Forex.com, menyatakan bahwa respons pasar di akhir pekan ini menggembirakan bagi para pembeli. Ia menegaskan tidak ada alasan untuk meninggalkan bias bullish mengingat kondisi makroekonomi yang masih mendukung emas.
Rich Checkan, Presiden dan COO Asset Strategies International, menilai koreksi yang terjadi sudah berlebihan dan mulai menemukan titik dasarnya. Menurutnya, investor kini menunggu sinyal pembalikan sebelum kembali masuk pasar secara agresif.
Faktor penentu pekan depan
Pekan depan akan menjadi lebih pendek karena libur Good Friday, namun rilis laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Maret tetap akan dilaksanakan sesuai jadwal pada hari Jumat. Data ini dinilai sebagai katalis terpenting yang bisa memengaruhi arah kebijakan The Fed dan sentimen terhadap aset safe haven.
Selain payrolls, pasar juga akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell di Harvard pada hari Senin, data JOLTS dan Consumer Confidence pada Selasa, serta rilis ADP Employment dan ISM Manufacturing PMI pada Rabu. Rangkaian data ini akan memberikan gambaran lebih lengkap tentang kondisi ekonomi AS menjelang keputusan suku bunga berikutnya.
Marc Chandler, Managing Director di Bannockburn Global Forex, mencatat bahwa jika emas mampu menembus resistensi di atas $4.602, ada potensi kenaikan lanjutan menuju $4.760. Namun ia memperingatkan bahwa eskalasi konflik Iran bisa mendorong harga kembali ke level terendah minggu ini.
Colombo menambahkan bahwa jika situasi Iran mereda, harga minyak dan dolar AS berpotensi turun, yang secara historis menjadi katalis positif bagi logam mulia. Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa pasar emas masih berada di tahap awal siklus bull market sekuler yang diperkirakan berlangsung tujuh hingga delapan tahun ke depan.
John Weyer, Direktur di Walsh Trading, menilai bahwa pemain besar yang keluar sebelum puncak Januari lalu kini mulai masuk kembali ke pasar emas. Ia menyebut ada "misi" untuk mendorong harga menuju $5.000, bukan sekadar target jangka pendek biasa.
Satu-satunya suara yang secara eksplisit bearish datang dari Alex Kuptsikevich, Senior Market Analyst di FxPro, yang melihat kondisi ekuitas yang melemah dan penguatan dolar sebagai lingkungan yang "beracun" bagi emas. Ia menegaskan pandangannya baru akan berbalik bullish jika ada sinyal jelas dari bank sentral besar mengenai pelonggaran kebijakan moneter.

